Bagaimana Menghindari Kejahatan Tukar SIM

Situasi bertukar SIM dapat memicu kejahatan perbankan digital. Salah satu penyebab hal ini terjadi adalah karena data pribadi korban mungkin telah terekspos di ruang digital.

Oleh karena itu, menjaga kerahasiaan data pribadi sangat penting untuk keamanan pribadi dan bank dari penjahat dunia maya.

Hal tersebut menjadi isu yang dibahas dalam webinar Kementerian Komunikasi dan Informatika RI dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Sibercreation yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan pada Rabu (23/11).

Menurut nusnet.id Webinar ini menghadirkan Satria Andika Alrasid, seorang relawan TIK dari Jawa Barat; relawan Mavendo Fakhruddin Palapa; Saya Arif Rama Syarif, pendiri Yayasan Komunitas Open Source.

SIM Swap, dalam pengertian Satria Andika, dapat dipahami sebagai pengambilan kartu SIM untuk tujuan pembobolan data dan memeras uang korban ke dalam rekening banknya.

Data yang dikumpulkan sebelum melakukan tindak pidana ini meliputi nama, alamat rumah, nomor induk (NIK), nama tanggal lahir ibu, nomor telepon dan data terkait lainnya.

“Pelaku menggunakan metode phishing atau phishing melalui email atau SMS untuk mendapatkan data pribadi. Penyerang juga dapat menggunakan ancaman, hadiah, dan bentuk penipuan lainnya atau rekayasa sosial yang dikenal dengan rekayasa sosial.” ujar Satria. .

Satria terus mengumpulkan informasi pribadi korban, kemudian pelaku mendatangi kantor operator kartu SIM untuk memblokir nomor kartu SIM target dan meminta polisi menggantinya dengan kartu SIM baru.

Pelaku dapat mencuri uang korban dan melakukan transfer rekening secara sewenang-wenang melalui modus ini.

Di sisi lain, Arif Rama menjelaskan, dalam situasi ini, kehati-hatian harus diberikan dalam penyediaan data keuangan untuk mencegah pelaku kejahatan siber. Penting juga untuk mengubah kata sandi untuk akun yang berbeda secara berkala dan mencoba untuk tidak membagikan data pribadi di media sosial dan ruang digital lainnya.

Baca Juga  3 Game PlayStation Plus Gratis Oktober 2022

“Anda dapat mengaktifkan notifikasi SMS untuk setiap jenis transaksi tertentu untuk mengetahui jika ada transfer di rekening Anda,” kata Arif.

Menurut Arief, pencurian identitas digital dapat dilakukan melalui jaringan Wi-Fi publik, situs web yang tidak aman, pembobolan data pihak ketiga, upaya phishing, kata sandi yang lemah, atau pengikut baru yang tidak dikenal di media sosial.

Dia berkata “Jangan memasukkan data pribadi di situs yang tidak dikenal karena itu mungkin aplikasi perangkat lunak berbahaya”.

Jika demikian, menurut Fakhreddine, siapa pun kini dapat dengan mudah menggunakan Internet tanpa batasan. Hal ini memudahkan para pelaku kejahatan untuk melakukan aksinya. Bahkan, tidak sedikit orang yang tidak memasukkan data pribadinya di situs web tertentu yang menjadi alat penjahat dunia maya.

“Para pelaku kejahatan ini sulit diberantas karena mengandalkan dunia maya. Kejahatan dunia maya ini seperti mata air yang tumbuh dan berubah. Yang satu akan hilang dan yang lain akan muncul kemudian,” ujar Fakhreddine.

Melalui Program Gerakan Nasional Literasi Digital Kementerian Informasi dan Komunikasi RI, kami berharap masyarakat dapat menggunakan Internet secara cerdas, positif, kreatif dan produktif.

Kementerian Telekomunikasi dan Informatika Republik Indonesia bekerja sama dengan GNLD Sibercreation terus menjalankan Program Indonesia Digital untuk memberdayakan masyarakat melalui kegiatan literasi digital yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Untuk mengikuti kegiatan saat ini, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial Kemenkominfo dan Cybercreation.